Keuangan
Cara Menghitung HPP dan Harga Jual Produk UMKM (Rumus per Unit, Contoh, Template Excel)
Oleh Super Admin
Salah satu penyebab UMKM merasa "ramai order tapi untungnya tipis" adalah harga jual yang ditentukan dari perkiraan, bukan dari perhitungan HPP (harga pokok produksi) yang sebenarnya. Tanpa tahu HPP, mustahil tahu pasti apakah harga jual sudah menutup semua biaya atau justru menggerus modal pelan-pelan.
Apa Itu HPP dan Kenapa Penting
HPP adalah total biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit produk sampai siap dijual. Ini beda dengan harga jual — HPP adalah biaya, harga jual adalah HPP ditambah margin keuntungan yang diinginkan. Tanpa tahu HPP secara akurat, menentukan margin jadi sekadar tebakan, dan tebakan yang meleset bisa berarti setiap produk yang terjual justru menambah kerugian, bukan keuntungan.
Komponen yang Harus Dihitung dalam HPP
Empat komponen ini wajib masuk hitungan, sekecil apa pun nilainya:
- Biaya bahan baku — semua bahan yang benar-benar terpakai untuk satu unit produk, bukan harga beli borongan yang belum dibagi per unit.
- Biaya tenaga kerja langsung — upah untuk waktu yang benar-benar dipakai mengerjakan produk, baik dihitung per jam maupun per hasil (upah borongan).
- Biaya overhead produksi — listrik, gas, penyusutan alat, dan biaya operasional lain yang terpakai selama proses produksi, meski tidak selalu terlihat langsung per unit.
- Biaya kemasan — sering terlewat padahal untuk sebagian usaha, biaya kemasan bisa cukup signifikan dibanding biaya bahan baku utamanya.
Cara Menghitung HPP per Unit: Rumus Dasar
Rumus paling dasar: HPP per unit = Total Biaya Produksi ÷ Jumlah Unit yang Dihasilkan
Contoh perhitungan: sebuah usaha membuat 50 pcs tas kain dalam satu batch produksi, dengan rincian biaya bahan kain dan aksesoris Rp1.500.000, upah jahit borongan Rp750.000, biaya listrik dan penyusutan mesin jahit diperkirakan Rp100.000, dan kemasan Rp150.000 (Rp3.000 × 50 pcs). Total biaya produksi: Rp2.500.000.
HPP per unit = Rp2.500.000 ÷ 50 pcs = Rp50.000 per tas.
Dari angka ini, kalau usaha ingin markup 40% di atas HPP, harga jual minimal yang masuk akal adalah Rp50.000 + (40% × Rp50.000) = Rp70.000. Kalau selama ini dijual di bawah angka itu — misalnya Rp55.000 karena "sudah biasa segitu" — markup sebenarnya hanya 10%, jauh dari target yang dikira sudah tercapai.
Rincian Perhitungan dalam Tabel
Supaya mudah ditiru, berikut rincian contoh tas kain di atas dalam bentuk tabel. Format seperti ini bisa langsung dipakai di Excel atau buku catatan:
| Komponen | Rincian | Total Batch | Per Unit (÷50) | |---|---|---|---| | Bahan baku | Kain kanvas 25 m × Rp45.000 + aksesoris Rp375.000 | Rp1.500.000 | Rp30.000 | | Tenaga kerja langsung | Upah jahit borongan Rp15.000/pcs | Rp750.000 | Rp15.000 | | Overhead | Listrik, penyusutan mesin jahit | Rp100.000 | Rp2.000 | | Kemasan | Plastik + label Rp3.000/pcs | Rp150.000 | Rp3.000 | | HPP | | Rp2.500.000 | Rp50.000 |
Kolom "per unit" penting karena memperlihatkan komponen mana yang paling berat. Di contoh ini bahan baku menyumbang 60% HPP, jadi kenaikan harga bahan baku 10% saja langsung menaikkan HPP Rp3.000 per tas.
Cara Menghitung HPP dan Harga Jual: Markup vs Margin
Setelah HPP per unit diketahui, harga jual dihitung dari HPP dengan salah satu dari dua cara. Dua istilah ini sering dipakai bergantian padahal hasilnya berbeda:
- Markup dihitung dari HPP. Markup 40% atas HPP Rp50.000 berarti harga jual Rp70.000.
- Margin dihitung dari harga jual. Dengan harga jual Rp70.000 dan HPP Rp50.000, keuntungannya Rp20.000, atau margin 28,6% dari harga jual.
Kalau target Anda adalah margin 40% dari harga jual, rumusnya berbeda: Harga Jual = HPP ÷ (1 − 40%) = Rp50.000 ÷ 0,6 = Rp83.333. Selisih Rp13.000 per unit ini sering jadi sumber salah paham ketika pemilik usaha membaca "margin" di laporan keuangan tapi menghitung harga dengan rumus markup.
Contoh Kedua: HPP Produk Makanan per Resep
Untuk usaha makanan, HPP lebih mudah dihitung per resep atau per adonan, lalu dibagi jumlah porsi yang dihasilkan. Contoh satu adonan brownies panggang ukuran 20×20 cm yang dipotong 16 bagian:
| Bahan | Pemakaian | Biaya | |---|---|---| | Dark chocolate compound | 200 g | Rp18.000 | | Mentega | 150 g | Rp12.000 | | Gula pasir | 200 g | Rp3.200 | | Telur | 4 butir | Rp8.000 | | Tepung terigu & kakao | 120 g | Rp4.000 | | Gas oven (estimasi) | 45 menit | Rp3.000 | | Kotak + mika | 16 pcs | Rp16.000 | | Total | | Rp64.200 |
HPP per potong = Rp64.200 ÷ 16 = Rp4.013, dibulatkan Rp4.000. Belum termasuk upah membuat. Jika satu adonan dikerjakan 1 jam dengan upah Rp15.000/jam, tambahkan Rp940 per potong sehingga HPP menjadi sekitar Rp5.000. Dengan harga jual Rp8.000 per potong, margin terhadap harga jual adalah 37,5%.
Satu hal yang sering terlewat di usaha makanan adalah susut dan gagal produksi. Kalau rata-rata 1 dari 16 potong pecah atau tidak layak jual, HPP sebenarnya dibagi 15, bukan 16 — naik sekitar 7%.
Untuk usaha kuliner yang menjual banyak menu, termasuk minuman dan pesanan lewat aplikasi ojek online, baca panduan khusus cara menghitung HPP makanan per porsi.
Cara Menghitung HPP Produksi untuk Beberapa Produk Sekaligus
Satu batch produksi sering menghasilkan lebih dari satu jenis produk, misalnya satu gulung kain dipotong menjadi kaos dan totebag, atau satu adonan dibagi menjadi bolu dan muffin. Biaya yang bisa ditelusuri langsung (kain untuk kaos, cup muffin) dibebankan ke produknya masing-masing. Biaya bersama seperti upah harian, listrik, dan gas dibagi berdasarkan porsi pemakaian, biasanya jumlah unit atau lama pengerjaan.
Contoh: upah harian Rp300.000 dipakai untuk membuat 40 kaos (6 jam) dan 30 totebag (2 jam). Pembagian berdasarkan waktu memberi kaos Rp225.000 (Rp5.625 per kaos) dan totebag Rp75.000 (Rp2.500 per totebag). Pembagian per unit akan memberi angka yang sama untuk keduanya (Rp4.286), padahal kaos jauh lebih lama dikerjakan. Pilih dasar pembagian yang paling mendekati kenyataan, lalu pakai cara yang sama setiap bulan.
Template HPP Sederhana di Excel
Buat satu sheet per produk dengan kolom: Komponen, Satuan, Pemakaian per batch, Harga per satuan, Total, Per unit. Lalu:
- Isi semua bahan berdasarkan nota pembelian terakhir, bukan harga yang diingat.
- Masukkan upah dan overhead per batch.
- Rumus kolom Total = Pemakaian × Harga per satuan.
- Rumus HPP per unit = jumlah kolom Total ÷ jumlah unit yang layak jual.
- Tambahkan sel Harga jual dan hitung margin = (Harga jual − HPP) ÷ Harga jual.
Perbarui kolom harga setiap kali belanja bahan dengan harga berbeda. Begitu jumlah produk sudah lebih dari lima, memperbarui banyak sheet ini mulai memakan waktu dan rawan lupa.
Kesalahan Umum saat Menghitung HPP
Kesalahan paling sering: hanya menghitung biaya bahan baku dan lupa memasukkan tenaga kerja atau overhead, sehingga HPP terlihat lebih rendah dari kenyataan dan harga jual jadi terlalu murah. Kesalahan lain adalah menghitung HPP sekali saja di awal, lalu tidak pernah diperbarui meski harga bahan baku sudah naik — akibatnya margin tergerus pelan-pelan tanpa disadari.
Kapan HPP Perlu Dihitung Ulang
Idealnya, HPP ditinjau ulang setiap kali ada perubahan signifikan pada harga bahan baku, upah, atau resep/formula produk. Untuk usaha dengan bahan baku yang harganya fluktuatif, meninjau HPP tiap bulan lebih aman daripada menunggu sampai margin terasa menipis baru disadari.
Overhead Sering Terlewat, Padahal Nilainya Nyata
Dari empat komponen HPP, overhead paling sering diabaikan karena tidak sejelas biaya bahan baku yang langsung terlihat dari nota pembelian. Padahal listrik untuk oven atau mesin jahit, gas untuk produksi, sampai penyusutan alat yang dipakai berulang kali tetap merupakan biaya nyata yang menopang produksi.
Cara praktis mengestimasi overhead tanpa perlu hitungan akuntansi rumit: jumlahkan total biaya listrik, gas, dan penyusutan alat dalam sebulan, lalu bagi dengan jumlah total unit yang diproduksi bulan itu untuk dapat estimasi overhead per unit. Angka ini tidak perlu presisi sampai rupiah terakhir — yang penting ada, supaya HPP tidak terlihat lebih murah dari kenyataan hanya karena satu komponen biaya terlewat begitu saja.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah gaji pemilik usaha masuk HPP? Masuk, sebesar waktu yang dipakai untuk produksi. Jika pemilik ikut menjahit atau memasak, hitung waktunya dengan upah yang wajar. Waktu untuk promosi atau administrasi masuk biaya operasional, bukan HPP.
Apa bedanya HPP dengan biaya operasional? HPP hanya biaya yang melekat pada pembuatan produk. Sewa toko, ongkos iklan, dan gaji admin adalah biaya operasional yang ditutup dari laba kotor (harga jual − HPP).
Seberapa sering harga bahan perlu diperbarui? Setiap kali membeli bahan dengan harga berbeda. Minimal tinjau sebulan sekali bila harga bahan sering berubah.
Modul produksi dan stok bahan baku Fabriku mencatat biaya per bahan secara otomatis dari setiap penerimaan bahan, sehingga perhitungan HPP bisa mengikuti harga bahan yang aktual, bukan asumsi harga lama yang sudah berubah. Lihat cara kerjanya untuk usaha konveksi atau usaha makanan dan kue.
Untuk produk yang lebih personal seperti kerajinan tangan, komponen biayanya sedikit berbeda dan skill jadi faktor tambahan — lihat cara menentukan harga jual produk kerajinan handmade. Untuk usaha jasa yang tidak punya produk fisik sama sekali, logikanya mirip tapi komponennya berbeda — baca cara menghitung harga jasa servis kecil agar tidak rugi. Setelah HPP diketahui, langkah memilih markup atau margin dan menyesuaikan harga per channel dibahas di cara menentukan harga jual produk.

