Keuangan

Cara Menghitung HPP Produk UMKM agar Tidak Salah Tentukan Harga Jual

Oleh Super Admin · 27 Agustus 2026

Salah satu penyebab UMKM merasa "ramai order tapi untungnya tipis" adalah harga jual yang ditentukan dari perkiraan, bukan dari perhitungan HPP (harga pokok produksi) yang sebenarnya. Tanpa tahu HPP, mustahil tahu pasti apakah harga jual sudah menutup semua biaya atau justru menggerus modal pelan-pelan.

Apa Itu HPP dan Kenapa Penting

HPP adalah total biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit produk sampai siap dijual. Ini beda dengan harga jual — HPP adalah biaya, harga jual adalah HPP ditambah margin keuntungan yang diinginkan. Tanpa tahu HPP secara akurat, menentukan margin jadi sekadar tebakan, dan tebakan yang meleset bisa berarti setiap produk yang terjual justru menambah kerugian, bukan keuntungan.

Komponen yang Harus Dihitung dalam HPP

Empat komponen ini wajib masuk hitungan, sekecil apa pun nilainya:

  1. Biaya bahan baku — semua bahan yang benar-benar terpakai untuk satu unit produk, bukan harga beli borongan yang belum dibagi per unit.
  2. Biaya tenaga kerja langsung — upah untuk waktu yang benar-benar dipakai mengerjakan produk, baik dihitung per jam maupun per hasil (upah borongan).
  3. Biaya overhead produksi — listrik, gas, penyusutan alat, dan biaya operasional lain yang terpakai selama proses produksi, meski tidak selalu terlihat langsung per unit.
  4. Biaya kemasan — sering terlewat padahal untuk sebagian usaha, biaya kemasan bisa cukup signifikan dibanding biaya bahan baku utamanya.

Rumus Sederhana Menghitung HPP

Rumus paling dasar: HPP per unit = Total Biaya Produksi ÷ Jumlah Unit yang Dihasilkan

Contoh perhitungan: sebuah usaha membuat 50 pcs tas kain dalam satu batch produksi, dengan rincian biaya bahan kain dan aksesoris Rp1.500.000, upah jahit borongan Rp750.000, biaya listrik dan penyusutan mesin jahit diperkirakan Rp100.000, dan kemasan Rp150.000 (Rp3.000 × 50 pcs). Total biaya produksi: Rp2.500.000.

HPP per unit = Rp2.500.000 ÷ 50 pcs = Rp50.000 per tas.

Dari angka ini, kalau usaha ingin margin 40%, harga jual minimal yang masuk akal adalah Rp50.000 + (40% × Rp50.000) = Rp70.000. Kalau selama ini dijual di bawah angka itu — misalnya Rp55.000 karena "sudah biasa segitu" — margin sebenarnya hanya 10%, jauh dari target yang dikira sudah tercapai.

Kesalahan Umum saat Menghitung HPP

Kesalahan paling sering: hanya menghitung biaya bahan baku dan lupa memasukkan tenaga kerja atau overhead, sehingga HPP terlihat lebih rendah dari kenyataan dan harga jual jadi terlalu murah. Kesalahan lain adalah menghitung HPP sekali saja di awal, lalu tidak pernah diperbarui meski harga bahan baku sudah naik — akibatnya margin tergerus pelan-pelan tanpa disadari.

Kapan HPP Perlu Dihitung Ulang

Idealnya, HPP ditinjau ulang setiap kali ada perubahan signifikan pada harga bahan baku, upah, atau resep/formula produk. Untuk usaha dengan bahan baku yang harganya fluktuatif, meninjau HPP tiap bulan lebih aman daripada menunggu sampai margin terasa menipis baru disadari.

Overhead Sering Terlewat, Padahal Nilainya Nyata

Dari empat komponen HPP, overhead paling sering diabaikan karena tidak sejelas biaya bahan baku yang langsung terlihat dari nota pembelian. Padahal listrik untuk oven atau mesin jahit, gas untuk produksi, sampai penyusutan alat yang dipakai berulang kali tetap merupakan biaya nyata yang menopang produksi.

Cara praktis mengestimasi overhead tanpa perlu hitungan akuntansi rumit: jumlahkan total biaya listrik, gas, dan penyusutan alat dalam sebulan, lalu bagi dengan jumlah total unit yang diproduksi bulan itu untuk dapat estimasi overhead per unit. Angka ini tidak perlu presisi sampai rupiah terakhir — yang penting ada, supaya HPP tidak terlihat lebih murah dari kenyataan hanya karena satu komponen biaya terlewat begitu saja.

Modul produksi dan stok bahan baku Fabriku mencatat biaya per bahan secara otomatis dari setiap pembelian, sehingga perhitungan HPP bisa mengikuti harga bahan yang aktual, bukan asumsi harga lama yang sudah berubah.

Untuk produk yang lebih personal seperti kerajinan tangan, komponen biayanya sedikit berbeda dan skill jadi faktor tambahan — lihat cara menentukan harga jual produk kerajinan handmade. Untuk usaha jasa yang tidak punya produk fisik sama sekali, logikanya mirip tapi komponennya berbeda — baca cara menghitung harga jasa servis kecil agar tidak rugi.