Lewati ke konten utama
Kembali ke blog

Manajemen Stok

Cara Kelola Stok Reseller dan Dropship Kosmetik tanpa Selisih

Oleh Super Admin

Banyak brand kosmetik dan skincare lokal tumbuh lewat jaringan reseller dan dropshipper. Penjualan naik cepat, tapi pencatatan stok sering tertinggal. Gejalanya mudah dikenali: dropshipper sudah menerima pesanan, ternyata stok habis karena baru diambil reseller; reseller mengaku stoknya sudah habis terjual, tapi tidak jelas berapa yang masih ada di tangannya; dan saat ada keluhan produk, batch yang dikirim ke reseller tertentu tidak bisa ditelusuri.

Bedakan Tiga Model Penjualan

Sebelum mengatur stok, pastikan jelas model mana yang dipakai, karena perlakuan stoknya berbeda:

| Model | Barang pindah tangan | Stok tercatat di | |---|---|---| | Reseller beli putus | Saat reseller membayar | Keluar dari gudang Anda, selesai | | Reseller titip jual (konsinyasi) | Saat reseller menjual ke pembeli | Masih milik Anda sampai terjual | | Dropship | Anda mengirim langsung ke pembeli dropshipper | Gudang Anda, keluar saat dikirim |

Masalah paling sering muncul pada konsinyasi: barang sudah keluar gudang, tapi masih milik Anda. Jika dicatat sebagai "terjual", omzet terlihat lebih besar dari kenyataan. Jika tidak dicatat sama sekali, stok di gudang terlihat hilang.

Catat Stok Titipan sebagai Lokasi Terpisah

Cara paling mudah: perlakukan setiap reseller konsinyasi sebagai lokasi stok tersendiri. Saat mengirim 50 serum ke Reseller A, catat sebagai perpindahan stok dari Gudang ke Titipan Reseller A, bukan sebagai penjualan. Stok total Anda tidak berubah; yang berubah hanya lokasinya.

Penjualan baru dicatat saat reseller melaporkan barang terjual dan membayar. Saat itu stok di lokasi Titipan Reseller A berkurang.

Dengan cara ini Anda selalu bisa menjawab: berapa stok di gudang yang bisa dijual sekarang, dan berapa yang ada di tangan setiap reseller.

Alokasikan Stok untuk Dropship

Dropship dan penjualan reseller mengambil dari gudang yang sama. Agar tidak saling menghabiskan, tentukan alokasi. Misalnya dari 500 unit toner:

  • 300 unit untuk reseller beli putus,
  • 150 unit untuk dropship,
  • 50 unit cadangan untuk penjualan langsung dan penggantian produk rusak.

Alokasi ini tidak harus kaku. Tinjau setiap minggu berdasarkan channel mana yang paling cepat habis. Yang penting, dropshipper tidak menjanjikan barang yang sebenarnya sudah habis.

Selalu Catat Batch dan Tanggal Kadaluarsa

Untuk kosmetik, setiap pengiriman ke reseller sebaiknya mencatat nomor batch dan tanggal kadaluarsa. Manfaatnya:

  1. Jika ada keluhan iritasi atau produk berubah warna, Anda tahu batch mana yang perlu ditarik dan reseller mana yang menerimanya.
  2. Anda bisa memastikan reseller menerima batch yang lebih lama lebih dulu, sehingga stok di gudang tidak tertinggal sampai kedaluwarsa.
  3. Reseller yang menyimpan stok lama bisa diingatkan sebelum produknya mendekati kadaluarsa.

Rekonsiliasi Bulanan dengan Reseller

Setiap akhir bulan, cocokkan data dengan setiap reseller konsinyasi:

| Item | Jumlah | |---|---| | Stok titipan awal bulan | 40 | | Kiriman baru bulan ini | 50 | | Dilaporkan terjual | 62 | | Retur ke gudang | 3 | | Seharusnya tersisa | 25 | | Hasil hitung fisik reseller | 23 | | Selisih | −2 |

Selisih harus dibicarakan: apakah ada penjualan yang belum dilaporkan, barang rusak, atau hilang. Tetapkan aturan siapa yang menanggung selisih sejak awal kerja sama.

Atur Harga per Level

Harga untuk reseller, dropshipper, dan pembeli langsung biasanya berbeda. Pastikan setiap pesanan tercatat dengan channel-nya, sehingga laporan bisa menunjukkan margin per channel. Sering kali channel yang omzetnya paling besar ternyata bukan yang paling menguntungkan setelah dipotong diskon reseller dan ongkos kirim.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Lebih baik beli putus atau konsinyasi? Beli putus lebih sederhana dan arus kas lebih aman. Konsinyasi membantu menarik reseller baru, tapi butuh pencatatan dan rekonsiliasi lebih disiplin.

Bagaimana jika reseller menjual di bawah harga yang disepakati? Itu urusan kebijakan harga, bukan stok, tapi data penjualan per channel membantu mendeteksinya: reseller yang tiba-tiba menjual jauh lebih banyak dari biasanya patut ditanya.

Apakah dropshipper perlu melihat stok? Sebaiknya ya, minimal stok yang dialokasikan untuk dropship. Ini mengurangi pesanan yang harus dibatalkan.

Fabriku mencatat batch dan tanggal kadaluarsa wajib untuk kategori kosmetik, mendukung banyak lokasi stok beserta perpindahan antar lokasi, dan setiap sales order punya channel (offline, online, marketplace, atau reseller). Untuk pemantauan masa simpan, baca juga cara mengelola stok kosmetik agar tidak kadaluarsa dan lihat Fabriku untuk kosmetik dan skincare.