Lewati ke konten utama
Kembali ke blog

Produksi

Cara Membuat BOM (Bill of Material) Produksi Konveksi per Ukuran dan Warna

Oleh Super Admin

Order 300 kaos dengan tiga warna dan lima ukuran terdengar sederhana sampai kain yang dibeli ternyata kurang untuk ukuran XL warna hitam, sementara kain putih tersisa dua roll. Masalahnya hampir selalu sama: kebutuhan bahan dihitung dari rata-rata, bukan dari daftar bahan per varian. Daftar inilah yang disebut BOM (bill of material).

Apa Itu BOM dalam Produksi Konveksi

BOM adalah daftar semua bahan dan jumlahnya yang dibutuhkan untuk membuat satu unit produk. Untuk konveksi, satu unit berarti satu potong pakaian dengan ukuran dan warna tertentu. BOM kaos ukuran S tidak sama dengan BOM kaos ukuran XXL, karena konsumsi kainnya berbeda.

BOM yang rapi dipakai untuk tiga hal: menghitung belanja bahan sebelum produksi, menghitung HPP per varian, dan mengecek apakah bahan yang keluar dari gudang sesuai dengan jumlah produk yang dihasilkan.

Komponen BOM Konveksi

Untuk satu potong kaos, komponennya biasanya:

  1. Kain utama — dalam meter atau kilogram, tergantung cara Anda membeli kain.
  2. Kain tambahan — rib leher, kain kontras, atau furing.
  3. Benang — dalam meter atau persentase cone.
  4. Aksesoris — label merek, label ukuran, hangtag, kancing, resleting.
  5. Sablon/bordir — jika dikerjakan sendiri, catat tinta atau benang bordir; jika maklun, catat sebagai biaya jasa per potong.
  6. Kemasan — plastik, stiker, karton.

Menghitung Konsumsi Kain per Ukuran

Cara paling akurat adalah membuat marker (susunan pola di atas kain) untuk tiap ukuran, lalu mengukur panjang kain yang terpakai. Jika belum memakai marker, timbang atau ukur kain sebelum dan sesudah memotong 10 potong per ukuran, lalu ambil rata-ratanya.

Contoh hasil pengukuran untuk kaos cotton combed 30s, kain lebar 180 cm, dibeli per kilogram:

| Ukuran | Kain per potong | Rib leher | Label & hangtag | Plastik | |---|---|---|---|---| | S | 0,20 kg | 0,010 kg | 1 set | 1 pcs | | M | 0,22 kg | 0,011 kg | 1 set | 1 pcs | | L | 0,24 kg | 0,012 kg | 1 set | 1 pcs | | XL | 0,27 kg | 0,013 kg | 1 set | 1 pcs | | XXL | 0,30 kg | 0,014 kg | 1 set | 1 pcs |

Selisih S ke XXL di contoh ini 50%. Menghitung semua ukuran dengan angka rata-rata (misalnya 0,24 kg) membuat order dengan banyak ukuran besar pasti kekurangan kain.

Tambahkan Toleransi Susut dan Sisa Potong

Kain tidak terpakai 100%. Ada sisa potongan, kain cacat, dan susut setelah dicuci. Tambahkan toleransi 3–8% tergantung jenis kain dan kerumitan pola. Kaos polos biasanya 3–5%, kemeja dengan banyak potongan bisa sampai 8%.

Kebutuhan kain = konsumsi per potong × jumlah potong × (1 + toleransi)

Contoh: Order 300 Kaos, Tiga Warna

Order dari pelanggan:

| Warna | S | M | L | XL | XXL | Total | |---|---|---|---|---|---|---| | Hitam | 10 | 30 | 40 | 30 | 10 | 120 | | Putih | 10 | 25 | 30 | 20 | 5 | 90 | | Navy | 10 | 25 | 30 | 20 | 5 | 90 |

Kebutuhan kain hitam: (10×0,20) + (30×0,22) + (40×0,24) + (30×0,27) + (10×0,30) = 2 + 6,6 + 9,6 + 8,1 + 3 = 29,3 kg. Dengan toleransi 5%, belanja 30,8 kg, dibulatkan 31 kg.

Kain putih: (10×0,20) + (25×0,22) + (30×0,24) + (20×0,27) + (5×0,30) = 2 + 5,5 + 7,2 + 5,4 + 1,5 = 21,6 kg, dengan toleransi menjadi 22,7 kg. Kain navy sama dengan putih karena komposisi ukurannya sama.

Bandingkan jika dihitung rata-rata 0,24 kg × 120 potong = 28,8 kg untuk warna hitam. Setelah toleransi menjadi 30,2 kg — kurang sekitar 0,5 kg, setara dua potong XL yang tidak bisa dipotong.

Simpan BOM sebagai Data, Bukan Ingatan

BOM yang hanya ada di kepala kepala produksi akan hilang saat orangnya cuti atau berhenti. Simpan dalam tabel dengan kolom: Produk, Ukuran, Warna, Bahan, Jumlah, Satuan, Toleransi. Perbarui setiap kali pola berubah atau ganti supplier kain dengan gramasi berbeda.

Setelah produksi selesai, bandingkan kain yang benar-benar keluar gudang dengan kebutuhan menurut BOM. Selisih di atas toleransi adalah tanda ada pemborosan di proses potong, atau ada kain yang tidak tercatat keluar.

Kesalahan Umum Saat Menyusun BOM

  • Satu BOM untuk semua ukuran. Penyebab paling sering kain kurang di tengah produksi.
  • Lupa aksesoris kecil. Label ukuran dan hangtag sering habis duluan karena tidak masuk hitungan belanja.
  • Tidak membedakan warna. Kain warna gelap kadang punya gramasi berbeda dari warna terang di supplier yang sama.
  • Tidak memperbarui setelah ganti supplier. Lebar kain 180 cm dan 160 cm menghasilkan konsumsi berbeda untuk pola yang sama.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah BOM sama dengan HPP? Bukan. BOM berisi jumlah bahan. HPP adalah biaya, yaitu jumlah bahan di BOM dikalikan harga bahan, ditambah upah dan overhead. Lihat cara menghitung HPP produk UMKM.

Bagaimana BOM untuk produksi yang dimaklunkan? Tetap susun BOM yang sama. Bahan yang diserahkan ke maklun dihitung dari BOM, sehingga Anda bisa mengecek apakah sisa bahan yang kembali masuk akal. Baca juga cara mengelola kontraktor maklun konveksi.

Di Fabriku, kain masuk dicatat per penerimaan lengkap dengan warna, lebar, dan gramasi, lalu bahan yang dipakai di order persiapan (potong) mengurangi stok secara FIFO. Dengan begitu selisih antara kebutuhan menurut BOM dan kain yang benar-benar keluar bisa dicek per order. Lihat Fabriku untuk konveksi.