Lewati ke konten utama
Kembali ke blog

Penjualan

Contoh Laporan Penjualan Harian Toko Sembako (Rekap per Barang dan Cek Uang Laci)

Oleh Super Admin

Toko sembako bisa melayani ratusan pembeli sehari dengan belanjaan kecil-kecil: satu bungkus mi, setengah kilo gula, satu tabung gas. Mencatat setiap transaksi dengan tangan hampir mustahil saat toko ramai. Akibatnya banyak pemilik toko hanya menghitung uang di laci, tanpa tahu barang apa yang laku dan apakah uangnya cocok dengan barang yang keluar.

Artikel ini memberi contoh laporan penjualan harian yang realistis untuk toko sembako tanpa mesin kasir, dan cara mencocokkannya dengan uang yang masuk.

Dua Cara Mencatat Penjualan Harian Toko Sembako

  1. Per transaksi, setiap pembeli dicatat. Paling akurat, tapi hanya praktis bila memakai aplikasi kasir.
  2. Rekap per barang dari stok, dihitung sekali di akhir hari: terjual = stok awal + barang masuk − stok akhir. Cocok untuk toko tanpa kasir, asalkan dipakai untuk barang yang laku setiap hari.

Kebanyakan toko sembako kecil memakai cara kedua untuk 20–30 barang terlaris, lalu mengecek barang lain saat stok opname mingguan atau bulanan.

Contoh Laporan Penjualan Harian Toko Sembako

Rekap tanggal 14 Oktober untuk enam barang terlaris:

| Barang | Satuan | Stok awal | Masuk | Stok akhir | Terjual | Harga ecer | Omzet | |---|---|---|---|---|---|---|---| | Beras 5 kg | karung | 20 | 10 | 22 | 8 | Rp75.000 | Rp600.000 | | Minyak goreng 2 L | pouch | 30 | 0 | 18 | 12 | Rp36.000 | Rp432.000 | | Gula pasir 1 kg | pak | 25 | 0 | 15 | 10 | Rp18.000 | Rp180.000 | | Telur | kg | 15 | 10 | 13 | 12 | Rp29.000 | Rp348.000 | | Mi instan | bungkus | 120 | 40 | 85 | 75 | Rp3.500 | Rp262.500 | | Gas 3 kg | tabung | 10 | 10 | 8 | 12 | Rp22.000 | Rp264.000 | | Total | | | | | | | Rp2.086.500 |

Kolom masuk diisi dari barang yang datang hari itu (sesuai nota supplier). Stok akhir dihitung fisik saat toko tutup. Untuk telur dan barang curah lain, pakai satuan timbang yang sama setiap hari.

Koreksi Harga Grosir dan Eceran

Banyak toko sembako menjual barang yang sama dengan dua harga. Mi instan misalnya dijual Rp3.500 per bungkus atau Rp115.000 per dus isi 40.

Dari 75 bungkus mi yang terjual, ternyata 40 bungkus keluar sebagai 1 dus. Omzet sebenarnya:

  • 1 dus × Rp115.000 = Rp115.000
  • 35 bungkus × Rp3.500 = Rp122.500
  • Total Rp237.500, bukan Rp262.500

Selisih Rp25.000 ini sering membuat pemilik toko mengira uangnya hilang, padahal penyebabnya harga grosir. Solusinya: catat penjualan grosir sebagai baris terpisah (cukup tulis di buku kecil setiap ada pembeli per dus atau per karung), sementara stok tetap dihitung dalam satuan terkecil.

Omzet hari itu setelah koreksi: Rp2.086.500 − Rp25.000 = Rp2.061.500.

Cocokkan dengan Uang yang Masuk

Langkah terpenting dari laporan penjualan harian adalah mencocokkan omzet hitungan dengan uang:

| Sumber | Jumlah | |---|---| | Uang laci (setelah dikurangi modal kembalian awal) | Rp1.650.000 | | QRIS dan transfer | Rp320.000 | | Kasbon pelanggan hari ini | Rp70.000 | | Total uang + kasbon | Rp2.040.000 | | Omzet hitungan | Rp2.061.500 | | Selisih | −Rp21.500 |

Selisih kecil seperti ini biasanya berasal dari salah hitung stok akhir, barang yang diambil untuk keperluan rumah, kembalian yang salah, atau harga yang diberi diskon tanpa dicatat. Catat selisih setiap hari. Bila selalu minus di barang yang sama, periksa barang itu lebih dulu. Bila selisih membesar tiba-tiba, cek siapa yang menjaga toko hari itu.

Kasbon (pelanggan mengambil barang dan membayar nanti) wajib dicatat dengan nama dan jumlahnya. Kasbon yang tidak dicatat terlihat seperti uang hilang di laporan hari ini, dan sering tidak tertagih. Baca cara mencatat dan menagih piutang pelanggan.

Template Laporan Penjualan Harian Toko Sembako di Excel

Satu sheet per bulan, satu baris per barang per hari:

  • Kolom: A = Tanggal, B = Barang, C = Stok awal, D = Masuk, E = Stok akhir, F = Terjual, G = Harga, H = Omzet.
  • Rumus terjual: =C2+D2-E2
  • Rumus omzet: =F2*G2
  • Stok awal hari berikutnya = stok akhir hari ini.

Di bagian bawah, tambahkan tabel kecil cocok uang seperti di atas. Di akhir bulan, PivotTable dengan Barang di baris dan Sum of Terjual di nilai langsung menunjukkan barang mana yang paling laku dan perlu stok lebih banyak.

Untuk format laporan yang lebih umum (per transaksi, mingguan, bulanan), lihat cara membuat laporan penjualan UMKM sederhana. Catatan stok per barang yang lebih rapi bisa disusun dengan kartu stok barang.

Kesalahan yang Sering Terjadi

  • Barang masuk tidak dicatat, sehingga terjual terlihat lebih sedikit dan omzet seolah kurang.
  • Barang diambil untuk rumah tanpa dicatat. Tulis sebagai pemakaian pribadi, jangan dicampur dengan penjualan.
  • Stok akhir dihitung sambil melayani pembeli, sehingga angkanya meleset. Hitung saat toko sudah tutup atau saat sepi.
  • Hanya menghitung uang laci. Tanpa rekap barang, Anda tidak tahu apakah uang itu sesuai dengan barang yang keluar.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah semua barang perlu direkap setiap hari? Tidak. Rekap harian cukup untuk barang yang laku setiap hari dan nilainya besar. Barang lain dicek lewat stok opname bergulir.

Bagaimana jika ada barang yang dijual per gram, seperti gula curah? Timbang sisa stok di akhir hari dan pakai satuan kilogram dengan satu desimal. Selisih timbangan kecil wajar; yang perlu diperhatikan adalah selisih yang terus membesar.

Kapan sebaiknya mulai pakai aplikasi kasir? Saat pembeli antre dan mencari harga memperlambat pelayanan, atau saat selisih harian sulit dijelaskan. Lihat tips memilih aplikasi kasir untuk UMKM pemula.

Laporan Harian Tanpa Hitung Stok Manual

Di Fabriku, penjualan langsung di toko dicatat lewat halaman kasir cepat, dan stok barang berkurang saat transaksi selesai. Barang masuk dari supplier dicatat lewat penerimaan pembelian beserta nomor faktur, dan barang rusak, hilang, atau retur dicatat sebagai penyesuaian stok. Rekap penjualan harian dan per produk bisa dilihat dan diekspor ke Excel atau PDF, tanpa menghitung terjual dari selisih stok setiap malam. Lihat Fabriku untuk toko retail.